Senin, 14 Oktober 2013

PERANAN MASYARAKAT DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS




Kebudayaan yang menunjang, memupuk, dan memungkinkan perkembangan kreativitas disebut kebudayaan “Creativogenic”. Ada sembilan faktor sosiokultural yang “Creativogenic” ( Arieti ) :
§  Tersedianya sarana kebudayaan, seorang penyanyi seperti Agnes monica akan sulit mengembangkan bakatnya di tahun 1945 andaikata ia hidup dalam lingkungan dimana tidak ada kemungkinan untuk mempelajari vocal walaupun dia berbakat.
§  Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan,  media kebudayaan sebaiknya terbuka bagi semua lapisan masyarakat dan tidak bagi golongan tertentu saja.
§  Penekanan pada becomin tidak hanya pada being , manusia yang kreatif menyadari bahwa kreativitas adalah sesuatu yang tumbuh dan membutuhkan masa depan atau masa kini.
§  Memberikan kesempatan bebas , tidak ada diskriminasi.
§  Kebebasan , dengan pengalaman tekanan dan rintangan sebagai tantangan.
§  Menghargai dan dapat mengintegrasi rangsangan dari kebudayaan yang berbeda.
§  Toleransi dan minat terhadap pandangan yang divergen.
§  Interaksi antara pribadi – pribadi yang berarti.
§  Adanya insentif, berupa penghargaan atau hadiah.
Kesembilan faktor tersebut hanya merupakan faktor penunjang atau ketidakhadirannya merupakan faktor penghambat tetapi yang paling menentukan adalah unsur – unsur intrapsikis individu, seperti rasa aman dan bebas secara psikologis.
          Menurut Simonton masa perkembangan anak dan remaja sampai dewasa cenderung lebih nyata dipengaruhi oleh kejadian eksternal. Ia menemukan tujuh perubah yang mempengaruhi perkembangan kreatif seseorang :
§  Pendidikan formal.
§  Adanya model peran.
§  Zeitgeist , adanya pengaruh dari iklim mental pada kala waktu tertentu dalam sejarah.
§  Fragmentasi politis, adanya berbagai negara bagian yang independen dalam suatu peradapan, menimbulkan perbedaan kultural yang sangat mempengaruhi perkembangan kreativitas.
§  Keadaan perang
§  Gangguan sipil, misalnya pemberontakan rakyat,pertentangan dapat mempuyai pengaruh potensial yang negatif bagi perkembangan kreativitas.
§  Ketidakstabilan politis, merugikan perkembangan kreativitas karena untuk menjadi seorang yang kreatif seseorang harus menghayati dunianya dan mengendalikannya.
Menurut Selo Soemardjan, kemampuan kreatif seseorang tidak pernah lepas dari pengaruh kebudayaan dan masyarakat yang mengelilinginya. Timbul, tumbuh, dan berkembangnya suatu kreasi yang diciftakan oleh individu tidak luput dari pengaruh masyarakat dimana individu itu hidup dan bekerja. Disamping itu peranan teknologi dalam suatu kebudayaan juga dapat membatasi atau meluaskan kreativitas. Teknologi yang sudah mencapai tingkat perkembangan yang tinggi membuka kemungkinan yang luas untuk kreativitas bisa timbul dan berkembang dalam suatu masyarakat.
          Menurut Senada dan Carl Roger salah satu persyaratan utama bagi berkembangnya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan ( berfikir, mencifta ) baik dalam bentuk vertikal maupun secara horizontal.
Memanfaatkan Sumber dalam Masyarakat
          Koordinator program sebagai pengelola dapat melakukan/merencanakan kegiatan sebagai berikut :
§  Menyediakan bus untuk membawa siswa kelapangan.
§  Menghubungi perhimpunan orang – orang yang lanjut usia sebagai mentor untuk siswa.
§  Menghubungi orangtua yang dapat mengajar dalam bidang minat tertentu.
§  Memanfaatkan fasilitas perusahaan yang dekat dengan sekolah yang memberikan kesempatan belajar berupa pelatihan
§  Menggunakan tape recorder untuk menjelajah daerah tertentu.
§  Mengunjungi stasiun televisi.

Akhir – akhir ini makin tampak peran serta masyarakat untuk memupuk bakat dan talenta siswa berbakat dalam berbagai bidang seperti menyelenggarakan kursus, pelatihan, sanggar, dan sebagainya.
Untuk membantu setiap pribadi menjadi aktif yang perlu digalakkan adalah kerja sama tiga lingkungan pendidikan ( sekolah, keluarga , dan masyarakat ) dalam pengadaan berbagai alternatif program pendidikan anak berbakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar