Senin, 14 Oktober 2013

PERAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK




Manusia sepanjang hidupnya sebagian besar akan menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama yaitu keluarga , sekolah , dan masyarakat. Ketiga hal ini biasanya disebut sebagai tripusat pendidikan yang fungsinya sebagai alat bantu bagi anak untuk mengembangkan kreativitas yang ada pada dirinya. Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan terpenting bagi anak. Dalam keluarga orangtua mengajar anak hal – hal dasar seperti melatih dan memberi petunjuk tentang berbagai aspek kehidupan, keluarga juga sebagai pemuas emosional terhadap anak seperti  mendapatkan kasih sayang, perhatian, dll. Semuanya menjadi perhatian orangtua sampai anak menjadi dewasa dan berdiri sendiri.

          Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dacey ( 1989 ) karakteristik keluarga yang kreatif dalam mengembangkan kreativitas anak adalah Aturan perilaku yang ditetapkan orangtua, Masa kritis yang dialami keluarga, humor, perumahan, dan gaya hidup orangtua. Ia menyatakan bahwa ada perbedaan kreativitas anak yang nyata antara keluarga yang kreativitasnya rendah dan tinggi. Dari penelitiannya ini dia menyimpulkan bahwa keluarga merupakan kekuatan yang penting dan merupakan sumber pertama dan yang paling utama dalam pengembangan kemampuan kreatif anak.

          Di keluarga saya orangtua tidak terlalu menetapkan banyak aturan untuk dipatuhi oleh setiap anggota keluarga. Orangtua saya mengunakan pola asuh demokratis, kerjasama antara orangtua dan anak. Anak diakui sebagai pribadi tetapi tetap ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua. Kontrol dari orangtua juga tidak terlalu kaku. Kami bebas melakukan dan mengekspresikan hal – hal yang mampu kami lakukan tetapi kami juga harus betanggungjaawab terhadap apa yang kami lakukan dan kerjakan.
Keadaan keluarga saya memang tidak seperti semua faktor yang disampaikan oleh Dacey (1989) , orangtua saya tidak Humoris, khususnya ayah saya. Dia adalah seorang yang tidak banyak bicara. Kami juga tidak berada di perumahan yang ramai. Kami tinggal di sebuah desa yang  penduduknya tidak terlalu banyak pada waktu itu, disekitar rumah saya tidak ada tetangga hanya ada rumah kosong dan pepohonan saja sehingga ayah saya banyak membuat hasil kreasi di halaman rumah saya, seperti membuat ayunan, tempat duduk untuk bersantai di halaman rumah, dan beberapa tempat bunga. Karena memperhatikan hal itu, saya pun ikut membuat sebuah tempat duduk yang disandarkan pada sebuah pohon mangga di depan rumah saya. Saya membuatnya dengan papan bekas yang ada dibelakang rumah, saya juga sering membuat taman kanak-kanak sendiri dengan permainan seadanya yang bahan pokoknya itu adalah papan bekas. Saya mengajak teman-teman saya untuk bermain dirumah saya sepulang sekolah. Orangtua saya percaya akan hal- hal yang ingin saya lakukan seperti : ikut kelompok tari di sekolah dan perlombaan puisi. Mereka mendukung dan  menyediakan baju tari ( press ) sehingga saya bisa ikut pertandingan tari antar SD pada waktu itu. Orangtua saya juga tidak menekankan pada hasil raport kami disekolah tetapi walaupun demikian saya, kakak, dan abang saya tetap mendapat prestasi yang bagus di sekolah. Kakak saya juga pandai dalam hal tari sehingga saya sering belajar dengan kakak saya bahkan kami penah bertanding bersama di acara kelompok tari untuk perayaan 17 agustus .

          Menurut Amabile, ciri-ciri sikap orangtua yang memupuk krativitas anak adalah dengan memberikan kebebasan kepada anak, menghormati keunikan anak,mempunyai hubungan emosional yang tidak menyebabkan ketergantungan,orangtua lebih menghargai prestasi dibandingkan dengan angka semata-mata, orangtua itu sendiri aktif, mandiri, menghargai kreativitas anak serta menjadi model untuk anak.

          Hubungan saya dan orangtua sangat dekat, terlebih karena saya adalah anak bungsu. Karena hubungan yang sangat dekat itu, saya sangat merasakan sikap orangtua saya yang selalu menghargai setiap prestasi yang saya capai, ketika prestasi saya menurun mereka selalu mendukung dan menghargainya. Keaktifan orangtua saya dalam bersosialisasi khusunya di gereja sangat membantu saya untuk mengembangkan kreativitas saya, saya menjadi berani dan sering bernyanyi di setiap kegiatan gereja, menjadi song leader bersama teman-teman saya. Karena kebiasaan itu, Di kampus saya juga sering di sharingkan menjadi Song Leader di kebaktian Psikologi dan acara kebaktian se – USU, saya juga bergabung di kelompok koor angkatan 2012.

          Selain keluarga, Sekolah juga berperan terhadap pengembangan kreativitas anak. Semakin maju suatu masyarakat, semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk kedalam proses pembangunan masyarakat. Semua anak di sekolah memerlukan guru yang baik dan yang berbakat demi tercapainya tujuan instruksional dalam pengembangan kreativitas anak.
Menurut Maker ( 1982 ) karakteristik guru berbakat dibagi dalam 3 bagian : filosofis ( cara guru memandang pendidikan mempunyai dampak terhadap pendekatan mereka terhadap mengajar) , Profesional (Meliputi strategi untuk mengoptimalkan belajar siswa berbakat, keterampilan bimbingan) , Pribadi (Karakteristik pribadi guru anak berbakat meliputi motivasi, kepercayaan diri, rasa humor, kesabaran, minat luas, dan kelenturan)

          Dari karakteristik yang disebutkan oleh Maker tidak semua guru disekolah saya memenuhi karakteristik di atas. Waktu saya di Sekolah Dasar, hanya Guru agama saya yang memenuhi ketiganya. Banyak strategi yang ditetapkan oleh beliau untuk menjadikan kami menjadi seorang pribadi yang kreatif, beliau menetapkan proses belajar yang menarik. Ia selalu membuat materi pelajaran menjadi sebuah cerita, dan kemudian kami diunjuk untuk menceritakan kembali materi tersebut, apabila waktu yang disediakan tidak mencukupi kami disuruh untuk menulis ulang cerita tersebut di rumah. Ketika cerita yang kami sampaikan tidak seperti yang beliau inginkan, beliau tidak mematahkan semangat, ia memberikan pujian “BAGUS” untuk kami agar kami semakin termotivasi untuk selanjutnya.

Pada saat saya SMP, mata pelajaran yang paling saya gemari adalah Kesenian. Di mata pelajaran ini kami bebas membuat hasil kreasi kami sendiri, seperti membuat karya dari daun sanggar, membuat miniatur rumah dari gabus, dll. Saya menyukai mata pelajaran ini karena gurunya yang memberikan kebebasan untuk kami mengekspresikan diri. Beliau memberikan semangat untuk kami agar kami semakin percaya diri untuk terus menciptakan hasil kreasi yang menarik.

Pada saat saya SMA, kebebasan yang bertanggung jawab semakin saya dapat. Sebagian besar guru saya telah mencapai karakteristik yang disebutkan oleh Maker. Yang paling menarik adalah proses pembelajaran yang ditetapkan oleh ibu JS ( guru Biologi )pada waktu itu. Beliau berkata “ sebentar lagi kalian akan masuk ke dunia perkuliahan, untuk itu kita meniru sedikit proses pembelajaran yang ditetapkan diperkuliahan agar kelak kalian terbiasa ketika sudah masuk ke dunia perkuliahan”. Beliau membagi kelompok untuk presentasi disetiap pertemuannya. Kami diajarkan cara berpresentasi yang benar ( tidak gugup, Fokus ), kami diajarkan untuk menjadi seorang yang kreatif dalam membuat slide, penyampaian materi, dll. Beliau memberikan motivasi untuk kami. Ketika kelas mulai terlihat membosankan beliau membuat Humor yang menjadikan kelas menjadi fress kembali. Di semester berikutnya beliau menetapkan proses pembelajaran yang baru bukan metode presentasi lagi. Setiap kelompok yang telah diberikan sub-bab diharapkan mampu menjadikan materi tersebut menjadi sebuah lagu yang dapat dinyanyikan kelompok di depan kelas dengan syarat materi saling berhubungan. Metode yang ditetapkan ini semakin menumbuhkan sikap kreatif kami dalam mengatasi masalah yang diberikan.
Di samping itu Ekstrakulikuler dan organisasi yang disediakan oleh sekolah juga sangat membantu untuk sarana pengembangan kreativitas seperti english club, teater, pramuka, brimantala, skk , dll

          Pada kenyataannya guru tidak dapat mengajarkan krativitas , tetapi ia dapat memungkinkan kreativitas itu muncul, memupuknya dan merangsang pertumbuhannya.
Demikianlah yang dilakukan oleh guru – guru saya, mereka memang tidak mengajarkan kreativitas itu , tetapi mereka mendisign proses pembelajaran yang bertujuan untuk memunculkan dan menumbuhkan kreativitas yang ada pada siswa/i nya. 

          Faktor ketiga yang menjadi faktor pendukung kreativitas anak adalah masyarakat, masyarakat sebagai pusat pendidikan ketiga setelah keluarga dan sekolah ini mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dari keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta jenis-jenis budayanya. Masalah pendidikan di keluarga dan sekolah tidak bisa lepas dari nilai – nilai sosial budaya yang dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat.

          Menurut Silvano Arieti (1976) kebudayaan “ Creativogenic ” adalah kebudayaan yang menunjang, memupuk, dan memungkinkan perkembangan kreativitas. Arieti mengemukakan sembilan faktor sosiokultural yang “ Creativogenic ” diantaranya Tersedianya sarana - prasarana kebudayaan, keterbukaan rangsangan kebudayaan, penekanan pada becoming , kesempatan bebas terhadap media kebudayaan,adanya intensif / hadiah yang diberikan, dll.

          Lingkungan tempat saya tinggal tidak terlalu mendukung dalam meningkatkan kreasi yang saya miliki. Hanya gereja dan kegiatan yang dilaksanakan masyarakat yang bisa menjadi tempat untuk saya dalam mengembangkan kreativitas. Sedikit lembaga-lembaga yang membuka kursus untuk anak – anak di tempat saya tinggal, tidak ada pelatihan yang diprogramkan untuk anak.

          Menurut Simonton, pentingnya kondisi sosialkultural terhadap kreativitas , mengarahkan perhatian kita terhadap pengaruh dalam kebudayaan kita yang dapat memudahkan atau menghambat pengembangan kreativitas selama tahun – tahun formatif dari pertumbuhan bakat anak.

          Menurut soemardjan (1981) kemampuan kreatif individu tidak bisa lepas dari pengaruh kebudayaan dan masyarakat yang mengelilinginya. Timbul dan tumbuhnya kreativitas dan selanjutnya berkembang tidak luput dari pengaruh masyarakat dimana individu itu hidup dan bekerja.

          Lingkungan tempat saya tinggal memang tidak menjadi penghambat untuk menjadi wadah dalam menunjukkan kreativitas yang saya miliki, tetapi karena fasilitas yang terbatas kemampuan yang saya miliki tidak begitu berkembang. Masyarakat sekitar hanya bisa memberikan apresiasi dan dukungan untuk saya dalam melakukan suatu hal.

          Ketika saya masuk SMA dan pindah ke Siantar semuanya semakin lengkap. Fasilitas yang ada sangat banyak seperti kursus tari, musik ,dll ada juga lembaga seperti perusahaan tertentu yang datang ke sekolah untuk mensponsori kegiatan – kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Dengan adanya sponsor yang memberikan sarana untuk kami , kami semakin mampu menjalankan program – program estrakurikuler yang baik dalam pengembangan kreativitas yang kami miliki. Seperti yang disampaikan oleh Soemardjan bahwa pengaruh masyarakat sangat penting. pada saat itu, saya ikut ekstrakulikuler English Club .  Kami banyak merasakan peran masyarakat dalam pengembangan ekstrakulikuler tersebut. Peranan masyarakat tersebut antara lain :

Pelaksanaan Study Tour yang kami lakukan setiap semester.Kami pergi ke Tuk - tuk untuk melakukan tour yang tujuannya untuk melatih kemampuan berbahasa inggris kami anggota English Club terhadap turis-turis yang berlibur ke tempat tersebut. Dari pelaksanaan tour ini, ada peran masyarakat seperti yang disampaikan oleh Arieti , yaitu tersedianya sarana kebudayaan. Dalam hal ini kami bisa melakukan tour karena memang ada sarana kebudayaan yang mendukung kami untuk bisa melakukannya ( tempat wisata turis " Tuk-tuk " ) 
Ada peran masyarakat yang lain yaitu memanfaatkan sumber dalam masyarakat. Dalam menjalankan Study tour kami memanfaatkan sumber dalam masyarakat berupa bantuan dari kakak senior. Kami menghubungi kakak senior SMA N 2 yang telah berpengalaman dalam hal kegiatan yang dilakukan selama Study tour agar mereka dapat hadir dalam kegiatan yang kami jalankan dan memandu kami agar apa yang kami lakukan dapat mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya dan melalui kegiatan ini kami semakin dipupuk untuk menjadi pribadi yang kreatif.

Organisasi yang lain seperti Brimantala dalam mendaki gunung, Pramuka juga melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan. Tetapi berbeda hal nya dengan organisasi Teater. Di sekolah saya organisasi Teater lebih baik dalam proses sosialisaisinya dengan masyarakat sekitar. Karena Organisasi ini juga berhubungan dengan Acting , drama , dll. sehingga banyak organisasi/perusahaan yang terlibat dalam pengembangannya. contohnya studio Radio, Sanggar, perusahaan dalm bidang berfilman di Siantar, dll

          Setelah pindah ke Medan fasilitas yang ada juga sangat membantu. Saya bergabung di salah satu ekstrakulikuler di kampus ‘Psychestra Harmony ( PH )’.  Melalui psychestra harmony saya bisa belajar bermain angklung. Ekstrakulikuler ini semakin berkembang karena adanya apresiasi dari masyarakat dan lembaga yang ada di kota Medan, seperti diundangnya PH di acara Halal Bihalal, acara pentas seni yang diadakan oleh SAHIVA, dll. 

Contoh lain dari peran masyarakat yang saya alami adalah ketika kami angkatan 2012  mata kuliah Antropologi mengadakan tour keliling Medan untuk melihat budaya - budaya yang terdapat di Medan, seperti tempat ibadah Budha " VIHARA" , Istana Maimun, dll. Berikut peran masyarakat yang saya alami dalam pengembangan kreativitas masyarakat : 

1. Bus yang kami gunakan sebagai alat transportasi untuk melakukan tour merupakan salah satu sarana yang disediakan oleh masyarakat . Tanpa adanya bus tentu kami tidak dapat sampai ke tempat yang ingin kami tuju.
2. Izin yang diberikan oleh penanggung jawab tempat yang kami tuju merupakan salah satu peran masyarakat juga, dalam hal ini izin dari pihak yang bersangkutan .

Peran masyarakat sangat membantu. Ketika masyarakat mendukung dan memberikan sarana tentu kreativitas yang ada dalam diri individu dapat tersalurkan tetapi ketika masyarakat tidak memberikan apresiasi maka kemampuan yang kita miliki dan keinginan yang ada dalam diri kita ( Person )  tidak dapat tersalurkan karena tidak ada press ekstrenal.

Keluarga, sekolah, dan masyarakat adalah tiga hal yang memang harus diperhatikan keselarasannya agar anak dapat mengembangkan kreativitas yang dimiliki . Sehingga kemauan yang ada dalam dirinya ( person ) dapat didukung oleh press dari keluarga,sekolah, dan masyarakat jadi proses yang dijalani dapat terlaksana sehingga menghasilkan produk yang kreatif.

3 komentar:

  1. iyaa, saya setuju dengan pendapat Nirmay, kalau pembentukan dan pengembangan Kreativitas itu dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: keluarga, sekolah, dan masyarakat. terus, saya kurang mengerti untuk contoh pada peran masyarakat, boleh ngga nirmay uraikan? Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Muthia atas komentarnya... Berhubung saya juga masih mau merevisi,nanti saya masukkan pengalaman saya berdasarkan peran masyarakat ya muthia tanyakan. Secepatnya akan saya posting. Makasii muthiaa {}

      Hapus
  2. Muthia aku udah revisi dan aku uda paparkan beberapa contoh peran masyarakat . semoga bermanfaat ya :) makasii

    BalasHapus